Bila Semua Tlah Hilang...

Uncategories Comment( 0)

laa tahzan innallaha ma�anaa.....

kalimat itu yang slalu terlintas mmbuat tentram aliran darah karna amarah...

menghentikan tangis tatkala terluka

menguatkan hati tatkala ia lemah

bismillahi tawakaltu �alallah.... hamba tak punya kekuatan lebih tuk tahan haru ini

bila smuanya telah hilang... entah apa yang mmbuatQ tiada kini

sersa sendiri.....

tangisQ... tawaQ... bukan milik siapa2 wahai makhluk ciptaan Kholiq

jujur aQ hampa tanpa kasihnya tapi aQ lebih gelisah bila tanpa rahmat-Nya

bila smuanya telah hilang....

entah pada siapa lagi  tempatQ  tuk jatuhkan air mata ini....

bila smunya telah hilang....

entah pada siapa lagi tersenyum tatkala Q sedang Bersyukur

Ya Robb..... ighfirlii waatubu alaya....

Ya Robb... Jangan Cabut Rahmat-Mu

bila smunya tlah hilang pada siapa lagi aQ bergantung

Allahushomadhu....

 

Read more..


Cinta Sejantan Syaidina Ali

Uncategories Comment( 4)

 

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

 

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.
Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

 

Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

 

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.
Kedudukan di sisi Nabi?
Abu Bakr lebih utama,
mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,
namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah
sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..
Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?
Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

 

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

 

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak.
Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
Setelah Abu Bakr mundur,
datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa,
seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka,
seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab.
Ya, Al Faruq,
sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan,
sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?
Dan lebih dari itu,
’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,
”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

 

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.
Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.
Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya.
Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya.
”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani.
’Ali, sekali lagi sadar.
Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.
’Umar jauh lebih layak.
Dan ’Ali ridha.

 

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

 

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak.
Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?
Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

 

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

 

’Ali pun menghadap Sang Nabi.
Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
Ya, menikahi.
Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap?
Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.
Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

 

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”
Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung.
Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.
Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang.
Tapi ia siap ditolak.
Itu resiko.
Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.
Ah, itu menyakitkan.

 

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

 

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.
Dengan menggadaikan baju besinya.
Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya.
Itu hutang.

 

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah.
Sekarang.
Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati.
Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,
“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

 

Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

 

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,

 

dalam suatu riwayat dikisahkan

 

bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)

 

Fathimah berkata kepada ‘Ali,

 

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”

 

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”

 

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

 

 

Kisah ini disampaikan disini,

 

 

bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis-an

 

 

Kisah ini disampaikan

 

 

agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah

 

 

bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi

 

 

dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu

Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba.

 

 

dikutip Dari :buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah

chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

 

Read more..

Cinta Itu Ternyata Bukan Untukmu Tapi Untuk-Nya

Uncategories Comment( 0)

Aku myaman  tatkala ia hadir disampingku berikan nasihat keidahan akan islam

Tapi Q lebih merasa nyaman tatkala Rahmat-Nyalah yang turun dan berikan keindahan nyata... Maafkan Aq

Aku merasa bahagia tatkala kau berikan kado spesial di hari istimewQ 

tapi ternyata aq lebih sangat bahagia tatkala aq kembali dilihatkan kembli didunia saat Q mati semntra... Maafkan aQ

Aku merasa Beruntung Karna Q miliki hati secantik hati yang ku Cintai sperti dirimu

tapi untuk kesekian kalinya maafkan aQ.....

tetap dia yang Q pilih.... Ia hadir lebih cantik dengan sejuta penciptaan-Nya

melebih parasmu yang nantinya akan usang

Kau tak bisa sehebat DIA.....

maafkan aQ yang mungkin selama ini khilaf akan pendahuluan kepada cintamu

sedangkan DIA lebih mencintaiku...

Aku kan berdosa bila nanti aku menduakan-Nya.....

carilah Cinta selain kepadaku

karna aq sudah punyai DIA yang berlipat-lipat ganda akan cintamu padaQ

bukan kau yang kunanti kasih selama ini ...

bukan kau yang kurindu yang membelah hampir setengah hariQ 

Yaa Robb hamba ingin kembali dalam rangkulan rahmat-Mu

aQ sudah memutuskanya karna aQ lebih mencintai-Mu

dan aQ mnta maaf....

dan Maafkanlah aQ

Q MOHON DENGAN SANGAT

Read more..

Haruskah Qt Berdiam Melihat Kemunkaran

Uncategories Comment( 3)

"jika melihat kemungkaran diantaramu maka cegahlah dengan tanganmu(kekuasaanmu) jika tidak sanggup maka dengan lisanmu(aspirasimu) dan jika juga tidak sanggup mka cukup dngan hatimu dan itu selemah-lemahnya iman    (hadist Rosulullah SAW)

Masih ingatkah sahabat kisah sang syaidina  umar ibnil khotob tatkala umat muhammad ingkar terhadap ajarannya

masih ingatkah panglima besar khalid bin walid pertaruhkan satu nyawanya untuk islam

masih ingatkah kisah sang paman tercinta nabi syaidina Hamzah yang perkasa dengan pedangnya membasmi kaum kafiriin....

Sahabat ....!!

mereka mujahid bukan perusuh ... membela dngean janji allah akan indahnya Firdaus

tidakkah kita malu para sahabat rosul yang mulia kita fonis sebagai penjahat agama....

tiddakkah kita takut jika nanti sang malaikat munkar bertanya "sudahkah kita membela agama kita??"

 

 

 

 

 

 

 

Read more..

Petualangan Hati Di Negri Udara

Uncategories Comment( 1)

Bissmillah...

Dengan menyebut nama Allah Q coba tinggalkan kisah-kisah nista yang dunia katakan indah, berat memang melihat orang yang kita sayangi menangis karena kita tinggalkan. tapi aq tak mau ambil keputusan terburuk dan harus merasakn tangisan abadi di tempat jahannam karana dosa-dosa senyumQ bersamanya....

Kini tak bisa Q pungki tercipta kata2 hampa dihati tatkala sendiri menyepi.....

aQ memang tak sesempurna ikhwan kaffah yang bertahan pada hati yang istiQomah

                 Hingga datang satu sisi kisah yang kembali membuat aQ dalam pelukan hati dalam genggaman benda mati dan Q kurasakan helaan nafas panjang tatkala jiwa kembali terpisah dalam urun waktu dan masa petualang hati kini berlanjut hingga musim patah dan pecah tak jadi tercipta....

aQ jauh dengannya.... bertemu di Udara dengan sejuta khayal yang dibatasi asa yang tinggi karna mungkin kita terpisah raga

aQ bahagia posisikan dari menjadi sosok yang dihargai hadirnya.... naif sungguh

katakan apa yang belum aQ belum tentu nyatakan

tapi itu indahnya kisah

petualang hati melewati alunan udara menghijab diri dari murka-Nya

Allohu’alam BiiShawab (Allah maha mengetahui kebenarannya)

 

 

Read more..
design by Natty WP